Para pengusaha, terutama yang bergerak di beragam industri sekaligus berhasil menjadi pemimpin peringkat.
Prajogo Pangestu masih memimpin di urutan orang terkaya nomor 1 Indonesia, dengan kekayaan US$41 miliar, naik US$7 miliar dibandingkan dengan awal bulan lalu US$33,08 miliar. Kekayaannya ini, bersumber dari berbagai sektor.
Di peringkat orang kaya dunia, Prajogo Pangestu menduduki posisi ke-43, melesat dari awal bulan lalu di posisi ke-59.
Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Low Tuck Kwong, yang masih merajai sektor energi dan menempati peringkat ke-92 dunia.
Sementara itu, R. Budi Hartono, yang ketiga di Indonesia, yang berkontribusi signifikan di sektor keuangan dan investasi di peringkat ke-124 dunia.
Tokoh-tokoh penting lainnya termasuk Michael Hartono, yang keempat di Indonesia, seorang pelopor di bidang Manufaktur di peringkat ke-129 dunia, dan Otto Toto Sugiri, yang kelima di Indonesia, yang berada di peringkat ke-239 dunia.
Selain itu, Tahir dan Marina Budiman juga bertukar posisi dibandingkan bulan lalu, di posisi ke-6 dan ke-7. Pada akhir September Han Arming Hanafia juga sempat lepas dari 10 besar, tergantikan oleh Haryanto Tjiptodiahardjo, namun kini kembali ke posisi ke-10.
Berikut daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes per 1 Oktober 2025:
1. Prajogo Pangestu: US$41 miliar
Merupakan seorang putra pedagang karet, Prajogo Pangestu memulai bisnisnya dari industri kayu di akhir tahun 1970-an. Hingga dia mendirikan Barito Pacific Timber, dan mengantarnya melantai di bursa pada tahun 1993.
Perusahaan tersebut kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific dan justru melepas bisnis kayunya pada tahun 2007. Pada tahun tersebut, Barito Pacific beralih menjadi industri petrokimia dengan mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Pada tahun yang sama, Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri.
Setelah melantai di bursa pada tahun 2023, Pangestu mendaftarkan anak perusahaan energi terbarukan, Barito Renewables Energy, di akhir tahun.
2. Low Tuck Kwong: US$24,7 miliar
Dikenal sebagai Raja Batu Bara, Low Tuck Kwong yang merupakan kelahiran Singapura, adalah pendiri Bayan Resources, sebuah perusahaan tambang batu bara di Indonesia.
Dia juga mengendalikan perusahaan energi terbarukan Singapura, Metis Energy, yang sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources, dan memiliki saham di The Farrer Park Company dan Samindo Resources.
Low Tuck Kwong juga mendulang kekayaan dari kepemilikan saham di SEAX Global, perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia.
Low Tuck Kwong mengawali kariernya dengan bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya di Singapura saat masih remaja, kemudian pindah ke Indonesia pada tahun 1972 untuk mendapatkan peluang yang lebih besar.
3. R. Budi Hartono: US$19,3 miliar
R. Budi Hartono bersama dengan Michael Hartono, termasuk di antara orang terkaya di Indonesia. Sebagian besar kekayaan mereka berasal dari investasi di Bank Central Asia.
Keluarga Hartono membeli saham BCA setelah keluarga kaya lainnya, keluarga Salim, kehilangan kendali bank tersebut selama krisis ekonomi Asia 1997-1998.
Keluarga ini juga mengawali kejayaannya dari bisnis tembakau dan masih menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.
Dalam IPO terbesar kedua di Indonesia pada tahun 2022, kedua bersaudara ini mencatatkan sahamnya di Global Digital Niaga, perusahaan induk raksasa e-commerce Blibli, dan berhasil meraih US$510 juta.
4. Michael Hartono: US$18,5 miliar
Michael "Bambang" Hartono merupakan saudara R. Budi, yang bersama-sama masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia.
Keduanya memiliki sumber kekayaan yang sama, sebagian besar dari investasi di Bank Central Asia dan dari bisnis tembakau di mana Djarum masih menjadi satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia
5. Otto Toto Sugiri: US$12,2 miliar
Otto Toto Sugiri adalah salah satu pendiri dan CEO DCI Indonesia. Dia mendirikan perusahaan ini pada tahun 2011 dan mengembangkannya menjadi salah satu operator pusat data terbesar di Indonesia dan tercatat di bursa pada 2021.
Sebelum mendirikan DCI, Sugiri mendirikan Sigma Cipta Caraka pada tahun 1989, yang kemudian diakuisisi oleh Telkom Indonesia dan kini bernama Telkomsigma.
Pada tahun 1994, Otto mendirikan Indonet, penyedia layanan internet pertama di Indonesia, yang juga telah melantai di bursa pada tahun 2021. Pada tahun 2023, dia dan para pendiri lainnya menjual saham mereka kepada Digital Edge dari Singapura.

